Mental Inlander: penyakit mental kronis yg masih menggurita


Amien Rais: Celakanya mentalitas inlander ini tidak hanya mewabah di kalangan rakyat bawah. Tapi juga dialami, dengan sama-sama akutnya, oleh para pemimpin dan elite politik kita. Kalau yang terserang mental inlander itu rakyat kecil, paling akibatnya mereka terkagum-kagum kepada bule dan ketagihan nonton sinetron Indonesia. Kalau yang terkena penyakit inlander ini artis Indonesia, paling-paling akibatnya mereka jadi terkagum-kagum dan berlomba menikah atau memacari bule. Apa saja asal bule jadi rebutan artis kita, tidak peduli bule, yang di negeri asalnya jadi kuli pun, di sini jadi rebutan. Tapi, kalau yang terserang penyakit mental inlander ini adalah elite politik, sosial, ekonomi, intelektual, wartawan, agamawan, dan elite-elite yang lain, celakalah bangsa kita ini. [1]

Tulisan oleh: Novie Ayub Windarko

Definisi

Inlanders (bahasa Belanda untuk “pribumi”) atau pada akhir abad ke-19 seringkali disebut dengan istilah Indonesiërs (“orang Indonesia”) adalah satu dari tiga kelompok penduduk Hindia-Belanda menurut undang-undang tahun 1854. Dalam kelompok ini dimasukkan semua penduduk pribumi Nusantara yang tidak disamakan statusnya dengan kelompok Europeanen atau bangsa Eropa. (wikipedia)

Mental Inlander ditandai dengan tidak dimilikinya rasa percaya diri sebagai sebuah bangsa, memandang bangsa lain jauh lebih hebat dan maju. Tidak mampu membaca potensi bangsa yang begitu besar, bahkan berpikiran picik menyerahkan pengelolaan kekayaan bangsa kepada pihak lain karena menganggap bangsa ini tidak akan mampu mengatur dirinya sendiri. [4]

imigranjawa Mental Inlander: penyakit mental kronis yg masih menggurita

Javanese immigrants, brought as contract workers from the Dutch East Indies, picture taken between 1880-1900. http://en.wikipedia.org/wiki/Suriname

 

Penyebab

Almarhum Edward Said, intelektual Amerika kelahiran Palestina, telah mendedikasikan seluruh karier intelektualnya untuk mengungkap masalah mentalitas jongos ini. Dalam studi yang dituangkan dalam buku Orientalism dan sekuelnya Culture and Imperialism, Said antara lain menunjukkan bahwa mentalitas inlander itulah yang membuat kolonialisme dan imperialisme meluas ke seluruh negara di Asia dan Afrika dan bertahan ratusan tahun. Mentalitas inlander itu dibangun secara sistematis dan terus-menerus melalui kekuasaan dan bahkan sastra dan seni, sehingga telah mendarah mendaging dan menulang-sumsum sampai sekarang. [1]

Akibat

Amien Rais: Celakanya mentalitas inlander ini tidak hanya mewabah di kalangan rakyat bawah. Tapi juga dialami, dengan sama-sama akutnya, oleh para pemimpin dan elite politik kita. Kalau yang terserang mental inlander itu rakyat kecil, paling akibatnya mereka terkagum-kagum kepada bule dan ketagihan nonton sinetron Indonesia. Kalau yang terkena penyakit inlander ini artis Indonesia, paling-paling akibatnya mereka jadi terkagum-kagum dan berlomba menikah atau memacari bule. Apa saja asal bule jadi rebutan artis kita, tidak peduli bule, yang di negeri asalnya jadi kuli pun, di sini jadi rebutan. Tapi, kalau yang terserang penyakit mental inlander ini adalah elite politik, sosial, ekonomi, intelektual, wartawan, agamawan, dan elite-elite yang lain, celakalah bangsa kita ini. [1]

Pak Pray menyatakan dalam analisisnya menurut sudut pandang intelijen bahwa mental lemah orang terjajah ini mengakibatkan sifat menjilat masih sangat kental, disebut mental ABS. Pada umumnya mental inlander menjadikan orang kurang kreatif, kurang disiplin, cenderung malas, hanya akan bekerja kalau dilecut. Kalau jadi pemimpin maunya menang sendiri (cenderung otoriter). [2]

Sarjana menjadi job seeker tentu tidak lepas dari mengguritanya mental inlander (pekerja terjajah) dalam “mindset” mahasiswa, yakni seorang sarjana dianggap berhasil jika bekerja di kantor dengan pakaian rapi, tempat kerjanya jelas, dan cukup mentereng. [3]

 

Antitesis

Akibat penjajahan yang dimulai hampir 4 abad yang lalu ternyata berpengaruh kepada kondisi mental kita. Sampai sekarang hampir semua dari kita secara bawah sadar masih mengidap perasaan inferior dan rendah diri terhadap orang-orang bule. Bersyukur setelah sekian tahun berinteraksi dengan orang-orang Jepang dan bule, saya semakin percaya diri kala berhadapan dengan mereka walau terkadang penyakit lama masih muncul pula. Bandingkan dengan diplomat-diplomat masa revolusi seperti LN. Palar, Mochtar Kusumaatmaja, Sam Ratulangi dan Hasyim Jalal yang ditempa oleh semangat revolusi perjuangan sehingga tercatat dalam sejarah sering memenangkan pertempuran di meja diplomatik dan perundingan internasional. [5]

 

Bung Karno: “Aku ingin agar Indonesia dikenal orang. Aku ingin memperlihatkan kepada dunia, bagaimana rupa orang Indonesia. Aku ingin menjampaikan kepada dunia, bahwa kami bukan “Bangsa jang pandir” seperti orang Belanda berulang-ulang kali mengatakan kepada kami. Bahwa kami bukan lagi “Inlander goblok hanja baik untuk diludahi” seperti Belanda mengatakan kepada kami berkali-kali. Bahwa kami bukanlah lagi penduduk kelas kambing jang berdjalan menjuruk-njuruk dengan memakai sarung dan ikat-kepala, merangkak-rangkak seperti jang dikehendaki oleh madjikan-madjikan kolonial dimasa jang silam.” [5]

 

Berikut ini adalah dua kisah mengagumkan KH. Agus Salim yang menunjukkan Intelektualitas, Spiritualitas dan Integritas yang tinggi yang ditampakkan dihadapan dunia internasional. Sebuah kisah yang sarat dengan ibrah, dalam salah satu konferensi besar Beliau makan dengan menggunakan tangannya, sementara ketika itu para peserta muktamar menggunakan sendok. Ketika sebagian anggota muktamar mencemooh dengan mengatakan “Salim, Sekarang tidak saatnya lagi makan dengan tangan, tapi dengan sendok”, pemuda cerdas ini menjawab penuh wibawa “tangan yang selalu saya gunakan ini selalu saya cuci setiap kali akan makan, dan hanya saya yang memakai dan menjilatnya. Sementara sendok-sendok yang kalian gunakan sudah berapa mulut yang telah menjilatnya”. [6]

 

Solusi

Ada beberapa pendekatan yang bisa kita lakukan:

1. Biasakan anak kita berinteraksi dengan orang-orang asing sedini mungkin.

2. Ajari anak kita untuk “berani” terhadap orang asing. [5]

3. Perkenalkan anak kita dengan bahasa asing sedini mungkin. [5]

4. Biasakan berfikir bahwa mereka juga sama seperti kita, ada yang pintar ada yang males.

 

Ref:

  1. http://www.sunan-ampel.ac.id/forum/topic.php?id=42
  2. http://hankam.kompasiana.com/2010/12/28/bagaimana-intelijen-melihat-garuda-vs-harimau/
  3. http://wartapurbalingga.lokal.detik.com/2011/05/15/gurita-mental-inlander/
  4. http://sosbud.kompasiana.com/2011/05/19/mental-inlander-penyakit-paling-indonesia/
  5. http://edukasi.kompasiana.com/2010/04/05/kompleks-quasimodo/
  6. http://anjari.blogdetik.com/2008/04/04/kota-ilmu-dan-gerbangnya/

Incoming search terms:

Related Posts:

    3 Responses to Mental Inlander: penyakit mental kronis yg masih menggurita

    1. [...] hanya karena track record di FB, kita batal diterima kerja (hemm… mindset jadi karyawan, mental inlander ni.. he.. he.., just an [...]

    2. Aki Eman says:

      Kang Tanto numpang baca ya, matur nuwun

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>