Honor Bagi Guru Yang Ngajar Online, Perlukah?

Saya sempat diskusi dengan beberapa guru tingkat menengah atas terkait dengan penerapan elearning di sekolah. Salah satu hal yang menggelitik adalah perlunya mulai dipikirkan penghitungan ngajar online bagi guru terkait dengan absensi mereka yang secara tidak langsung juga akan terkait dengan honor mengajar yang mereka terima saat mengajar secara online.

Saya rasa perkara tersebut bener juga. Bisa saja guru malas belajar dan bermain dengan elearning karena mereka harus belajar banyak hal yang baru dengan tanpa adanya iming-iming yang bisa mereka dapatkan. Maaf bukan berarti ini menyapu rata bahwa semua pengajar butuh iming-iming berupa insentif. Ok lah mungkin bagi mereka yang sudah pegang sertifikasi, bukan masalah lagi terkait dengan honor, tapi bagi mereka yang masih tenaga honorer, mungkin elearning ini bisa jadi jalan rejeki tambahan bagi mereka.

Selain berupa adanya honor bagi pengajar online, tentunya sebuah pengukur diperlukan untuk mengukur kinerja pengajar secara online dan juga tingkat keaktifan siswa dan pengajar sendiri. Hal ini kaitannya dengan data yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat keefektifan elearning dan juga sebagai data pendukung untuk laporan pertanggungjawaban

Salah satu ukuran yang bisa dipakai adalah absensi online dari siswa dan pengajar. Absensi siswa secara online berguna untuk mengetahui keaktifan dan aktifitas mereka saat online. Absensi online pengajar berfungsi untuk menghitung berapa lama waktu yang dihabiskan untuk mengajar secara online.

Nah pasti ada yang kepikiran, wah berarti semakin lama sipengajar online, semakin banyak pula honor yang mereka terima. eittsss nanti dulu, kita bisa menerapkan penjadwalan dan batas maksimal waktu online selama 1 minggu. Taruhlah kita mewajibkan setiap pengajar harus memiliki jadwal mengajar secara online maksimal 3 jam dalam satu minggu, dimana diberi kebebasan waktu 3 jam tersebut dibagi selama berapa hari. Misalnya pengajar A mempunyai jadwal mengajar setiap hari Senin, Selasa dan Rabu pada pukul 14.00 – 15.00 setiap harinya. Maka jika ditotal jumlahnya adalah 3 jam.

Penghitungan absensi pengajar sendiri baru dilakukan apabila yang bersangkutan online sesuai dengan jam yang ia tentukan di jadwalnya. Apabila login diluar jadwalnya, maka tidak akan dihitung sebagai absensi.

Bagaimana kalau pengajar cuma login melalui PC atau laptop kemudian dia tinggal nyuci atau nonton TV? Nah ini pun juga bisa atasi dengan cara sistem yang kita buat harus mengecek aktifitas pengajar setelah yang bersangkutan login. Misalnya selama 15 menit tidak ada aktifitas pengajar dalam sistem, maka akan kita munculkan sebuah alert, apabila di klik berarti yang bersangkutan masih bisa meneruskan mengajar secara online, akan tetapi bila selama 30 detik misalnya, tidak ada klik maka sistem bisa langsung me-logout pengajar tersebut.

Pertanyaan lainnya adalah, LMS apa yang bisa digunakan untuk model seperti ini? Moodle? wah kalau setahu saya belum da LMS yang memberikan solusi untuk model di atas, terutama terkait dengan rekap absensi siswa dan pengajar.

Salah satu sistem yang saya tahu adalah sistemnya Dosenjaga milik PENS-ITS dimana kangtanto ikut bergabung sebagai developer didalamnya. Sistem ini digunakan untuk membantu proses pendidikan jarak jauh yang ada di PENS-ITS. Melalui sistem ini absensi mahasiswa dan dosen terpantau dan juga dihitung. Ya seperti uraian di atas lah. Secara detail terkait Dosenjaga akan saya tulis disini… semoga bisa secepatnya.

Pada sistem Dosenjaga, absensi mahasiswa dan dosen dihitung. Masing-masing dosen memiliki jadwal jaga secara online untuk memberikan bimbingan belajar mahasiswa melalui fitur chat, voip, pesan dan fitur yang mirip wall to wall nya FB. Rekap absensi dosen bisa dilihat setiap saat oleh dosen dan akan dihitung jumlahnya tiap akhir bulan untuk menentukan jumlah honor yang mereka terima.

Rekap absensi mahasiswa secara online juga digunakan sebagai persyaratan boleh tidak nya mereka mengikuti UTS atau UAS, dimana untuk mengikuti UTS/UAS syarat minimal absensi online mahasiswa sebesar 80%.

Dengan adanya model ini harapannya siswa dalam memanfaatkan elearning tidak hanya belajar secara mandiri, akan tetapi juga terbimbing.

Dari uraian di atas mungkin ada yang bisa ngasih kritikan, saran atu ide? monggo silahkan.

Be Sociable, Share!

Related Posts:

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *